
Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh, Ibu Ir. Suraiya Kamaruzzaman, ST., L.LM., MT, saat menyampaikan pandangan dalam rangkaian Peluncuran Jaringan OMS Indonesia untuk Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan (Women, Peace and Security/WPS) di Jakarta, Rabu (17/09/2025). (Foto: Dok. Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh)
Jakarta — Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh turut ambil bagian dalam peluncuran Jaringan WPS Indonesia (Women, Peace and Security) bersama lebih dari 80 organisasi masyarakat sipil dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran perempuan dalam agenda perdamaian, keamanan, dan ketahanan komunitas di tengah krisis multidimensi yang dihadapi saat ini.
Peluncuran jaringan ini menegaskan komitmen kolektif organisasi masyarakat sipil untuk mendorong implementasi agenda Women, Peace and Security (WPS) yang lebih inklusif, responsif terhadap tantangan zaman, serta berakar pada pengalaman komunitas di tingkat lokal.
Krisis yang dihadapi masyarakat hari ini tidak lagi terbatas pada konflik bersenjata. Bencana berulang, dampak perubahan iklim, kekerasan berbasis gender baik secara luring maupun daring, perdagangan orang, migrasi terpaksa, hingga rasa tidak aman yang dialami perempuan dalam kehidupan sehari-hari menjadi isu nyata yang saling berkaitan. Dalam konteks tersebut, perempuan tidak hanya menjadi kelompok terdampak, tetapi juga aktor penting dalam menjaga perdamaian, membangun ketahanan, dan memulihkan komunitas.
Perempuan Aceh, dengan pengalaman panjang menghadapi konflik, bencana, dan perubahan iklim, telah lama berada di garis depan kerja-kerja kemanusiaan dan perdamaian. Namun kontribusi tersebut kerap berlangsung tanpa pengakuan yang memadai dalam kebijakan dan pengambilan keputusan.

Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh, Ibu Ir. Suraiya Kamaruzzaman, ST., L.LM., MT., (kedua dari kiri) menjadi salah satu dari lima Presidium Nasional Jaringan Women, Peace, and Security (WPS) Indonesia periode 2025–2030. (Foto: Dok. Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh)
Melalui keterlibatan aktif dalam jaringan ini, Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh menegaskan bahwa Aceh tidak hanya dikenang melalui sejarah konflik masa lalu, tetapi juga sebagai laboratorium ketahanan, pembelajaran perdamaian, dan praktik keadilan iklim yang dipimpin oleh perempuan.
Peluncuran Jaringan WPS Indonesia bukan sekadar seremoni simbolik, melainkan pernyataan sikap dan awal dari kerja kolektif jangka panjang. Jaringan ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi strategis untuk memastikan suara perempuan terdengar, hak-hak perempuan dilindungi, serta peran perempuan diakui sebagai penjaga perdamaian dan ketahanan komunitas di tingkat lokal, nasional, hingga global.
Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam penguatan agenda Women, Peace and Security, serta mendorong kebijakan dan praktik yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Foto bersama lebih dari 80 organisasi masyarakat sipil dari seluruh Indonesia dalam Peluncuran Jaringan WPS Indonesia sebagai komitmen penguatan peran perempuan dalam perdamaian, keamanan, dan ketahanan komunitas, Jakarta, Rabu (17/09/2025). (Foto: Dok. Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh)
Aceh bersuara untuk Indonesia dan dunia.
Comments are closed