Filipina, 21 November 2025 — Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Ir. Suraiya Kamaruzzaman, S.T., LL.M., M.T. (Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim USK), diundang sebagai narasumber dalam The 7th International Forum on Law and Religion yang diselenggarakan pada 21 November 2025 di University of the Philippines, Kampus Bonifacio Global City (BGC), Filipina.

Forum ini diselenggarakan oleh University of the Philippines Law Center bekerja sama dengan Brigham Young University dan Philippine Center for Islam and Democracy (PCID), dengan mengangkat tema “Charting the Future of the Women, Peace and Security Agenda”. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari refleksi global atas 25 tahun Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 1325 tentang Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan (Women, Peace and Security/WPS).

Pada forum tersebut, Ir. Suraiya Kamaruzzaman menjadi pembahas (discussant) pada sesi “Women, Peace and Security (WPS) and Climate Change”, yang menyoroti keterkaitan antara perubahan iklim dengan isu keamanan manusia, termasuk dampaknya yang tidak proporsional terhadap perempuan, terutama pada komunitas rentan.

Dalam keterangannya, Ir. Suraiya Kamaruzzaman menegaskan bahwa perubahan iklim perlu dipahami sebagai isu lintas sektor yang berkelindan dengan dimensi keadilan dan keamanan manusia. “Perempuan di komunitas terdampak kerap berada pada garis terdepan dalam menghadapi krisis iklim, terlibat dalam upaya adaptasi dan mitigasi, serta berperan dalam memperkuat kohesi sosial dan ketahanan komunitas. Namun demikian, representasi dan suara perempuan dalam perumusan kebijakan masih memerlukan penguatan. Temuan ini juga tercermin pada hasil baseline data ACCI di Kabupaten Aceh Utara, Aceh Barat, dan Aceh Tengah pada Oktober 2025,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa forum ini menjadi ruang strategis untuk membawa pengalaman Aceh dan Asia Tenggara ke dalam percakapan global mengenai agenda WPS.

Pusat Riset Perubahan Iklim USK memandang undangan tersebut sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi riset dan advokasi yang selama ini dilakukan dalam isu perubahan iklim, ketahanan komunitas, dan keadilan gender. Partisipasi Ir. Suraiya Kamaruzzaman diharapkan dapat memperkuat perspektif Indonesia dalam diskursus internasional mengenai implementasi UNSCR 1325, khususnya pada wilayah yang rentan terhadap krisis lingkungan.

Forum ini dihadiri sekitar 200 peserta yang terdiri atas akademisi, pakar hukum, pembuat kebijakan, pegiat hak asasi manusia, serta perwakilan lembaga keagamaan dari Filipina dan negara-negara ASEAN. Penyelenggara menargetkan luaran berupa policy brief, prosiding forum, serta penguatan jejaring kolaborasi regional dan internasional dalam agenda WPS.
Informasi lebih lanjut:
Website: prpi-acci.usk.ac.id
Instagram: @acci_acehprogram
Comments are closed