Dok: UN Women/Putra Djohan

Jakarta, 4 Februari 2026 — ACCI USK menegaskan komitmennya dalam memperkuat kepemimpinan perempuan pada agenda keadilan iklim dan transisi energi berkeadilan melalui partisipasi aktif dalam rangkaian Temu Nasional Kepemimpinan Perempuan dan Keadilan Iklim. Kegiatan ini diselenggarakan Women Research Institute (WRI) bersama mitra daerah, termasuk ACCI USK, dengan dukungan UN Women Indonesia, di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta.

Dok: UN Women/Putra Djohan

Dalam forum nasional ini, ACCI USK diwakili oleh Ir. Suraiya Kamaruzzaman, S.T., LL.M., M.T. (Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim-ACCI USK) serta Dr. Irfan Zikri, S.P., M.A. (Sekretaris Pusat Riset Perubahan Iklim-ACCI USK), yang bersama-sama membawa perspektif Aceh terkait praktik baik komunitas dan kebutuhan penguatan ruang partisipasi perempuan dalam kebijakan iklim dan energi. Kehadiran delegasi ACCI USK menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring kolaborasi lintas wilayah dan memastikan pengalaman komunitas rentan terutama perempuan mendapat ruang lebih kuat dalam diskursus dan pengambilan keputusan di tingkat nasional.

Mengangkat pengalaman Aceh: perempuan sebagai aktor kunci ketahanan komunitas

Dok: UN Women/Putra Djohan

ACCI USK menilai perempuan di komunitas rentan sering berada di garis terdepan menghadapi dampak krisis iklim mulai dari pengelolaan kebutuhan rumah tangga, akses air dan pangan, hingga menjaga kohesi sosial. Namun, pada saat yang sama, ruang partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan formal masih kerap terbatas. Karena itu, ACCI USK mendorong agar inisiatif perempuan tidak berhenti pada level praktik baik, tetapi dapat terhubung dengan perencanaan, penganggaran, serta prioritas pembangunan di tingkat daerah.

Dalam sesi diskusi, Ir. Suraiya Kamaruzzaman menekankan bahwa isu iklim perlu dipahami sebagai bagian dari keamanan manusia dan keadilan sosial. Ia juga menyoroti pentingnya mekanisme yang memungkinkan suara perempuan hadir secara bermakna bukan sekadar administratif agar kebijakan iklim dan energi benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Senada dengan itu, Pak Irfan menekankan pentingnya penguatan kolaborasi lintas aktor dan penyelarasan agenda komunitas dengan kerangka kerja serta tindak lanjut yang dapat diperluas dampaknya.

Memperkuat strategi advokasi: data, jejaring, dan dialog lintas aktor

Dok: UN Women/Putra Djohan

ACCI USK memandang pengarusutamaan isu iklim dan lingkungan dalam agenda pembangunan masih menghadapi tantangan, karena belum selalu menjadi prioritas dalam sebagian proses birokrasi. Melalui forum ini, ACCI USK mendorong strategi advokasi yang lebih kolaboratif: memperkuat basis data, memperluas dialog lintas aktor (komunitas, akademisi, CSO, pemerintah, dan tokoh lokal), serta mengidentifikasi ruang kebijakan yang memungkinkan inisiatif komunitas terutama perempuan diakomodasi dan diperluas.

EmPower II: pembelajaran lintas wilayah untuk penguatan perempuan dan keadilan iklim

Dok: UN Women/Putra Djohan

Rangkaian temu nasional ini juga menjadi ruang merangkum pembelajaran program EmPower II (September 2024-November 2025) yang berjalan di Aceh, NTB, dan NTT. Program tersebut mendorong penguatan kapasitas dan kepemimpinan perempuan, pemberdayaan ekonomi selaras praktik berkelanjutan, serta advokasi integrasi perspektif gender dalam kebijakan iklim dan energi.

Bagi ACCI USK, pembelajaran ini menegaskan bahwa aksi iklim berbasis komunitas akan lebih berdampak ketika didukung oleh bukti/data, jejaring kolaborasi yang kuat, serta kesinambungan dukungan program. Forum ini sekaligus menjadi kesempatan strategis untuk memperkuat kemitraan regional-nasional dan mendorong rencana tindak lanjut kolaboratif untuk memperkuat dukungan bagi inisiatif perempuan di berbagai daerah.

Informasi lebih lanjut:
Website: prpi-acci.usk.ac.id
Instagram: @acci_acehprogram

Comments are closed

Komentar Terbaru

No comments to show.
Recent Comments